Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Hubungan Saya dengan Menulis (30 Hari Menulis #1)

6/01/2017 11:45:00 PM Gita D. Astari 2 Comments Category : , , , ,

Seperti yang diketahui kebanyakan orang yang memiliki akses ke Internet, seorang pengguna Facebook dapat memilih untuk menayangkan status hubungan mereka. Pilihannya ada bermacam-macam, dari lajang hingga menikah. Nah, kalau saya harus menayangkan status hubungan saya dengan Menulis, saya tidak akan memilih status ‘married’ atau bahkan ‘in a relationship’; saya akan memilih ‘It’s Complicated.’ Karena memang begitulah adanya.


Salah satu ingatan masa kecil yang masih berbekas di kantung memori saya adalah ketika saya dengan bangga menunjukkan hasil tulisan saya kepada ibu saya. Saya kurang yakin berapa tahun usia saya kala itu, tapi yang pasti masih terbilang imut-imut (hehehe). Tulisan saya waktu itu berbentuk fiksi, sebuah kisah tentang seekor semut. Jalan ceritanya tidak saya ingat, tapi yang tidak bisa saya lupakan adalah perasaan bahagia saya yang dapat menuangkan adegan yang tadinya hanya berada di otak saya ke dalam wujud nyata, dibangun oleh goresan-goresan tinta hitam di atas sebuah kertas putih.

Saya juga ingat betapa senangnya saya ketika ibu saya pulang dari kantor membawakan sebuah hadiah, padahal waktu itu masih jauh sekali dari ulang tahun saya di bulan Desember: sebuah buku harian! Warna sampulnya biru, dengan dekorasi sebuah jam beker di tengahnya. Ada tulisan “My Diary” tertengger di bagian atas. Dan dengan begitulah, love affair saya dengan Menulis bermula.

Semua jenis tulisan saya coba: cerpen, puisi, atau sekedar curhat. Kemesraan saya dan Menulis ini semakin berkembang setelah saya berkenalan dengan Mia Thermopolis, seorang putri kerajaan karakter utama di serial The Princess Diaries karya Meg Cabot. Kebiasaannya menerjemahkan segala hal yang terjadi pada hari-harinya ke dalam kata-kata di bukunya ikut saya contoh. Buah dari kebiasaan itu, selain sebuah novella fan fiction serial Street Football favorit saya yang disiarkan di Lativi dan Harry Potter yang belum pernah saya baca bukunya, adalah kemenangan saya dalam perlombaan mengarang di SMP. Di SMA pun, karya tulis yang saya paksa selesaikan dalam beberapa jam saja mampu membawa tim sekolah saya ke Ragunan dan Dufan dalam berkat acara Toyota Eco Youth yang kami ikuti.

Sebenarnya kalau mau jujur, Menulis tidak hanya membawa saya ke kejadian-kejadian menyenangkan seperti itu; dia juga menemani saya ketika saya butuh dimengerti, dan tidak bisa mendapatkan pengertian dan perhatian yang saya butuhkan dari lingkungan sekitar. Menulis membuat saya lebih jujur dengan diri sendiri, dan pada akhirnya hal itu membawa saya ke pemahaman yang lebih mendalam tentang siapa sebenarnya diri yang saya sebut “saya” ini. Tanpa dia, saya yakin saya tidak akan bisa menjadi begini perhatian terhadap apa yang saya suka dan tidak suka, apa yang saya pikir tentang dunia, dan apa yang saya butuhkan dan inginkan dalam hal yang dilalui oleh semua jiwa: kehidupan.

Sayangnya, hubungan kami kini tidak begitu mulus. Entah sejak kapan, saya mulai berharap macam-macam dari Menulis. Mungkin karena saya terbiasa mendapatkan pujian tentang hasil karya saya sejak saya masih duduk di bangku SD, atau mungkin juga saya sendiri yang menanamkan ekspektasi terhadap standar tulisan diri sendiri—saya mulai membenci Menulis. Saya benci karena Menulis tidak lagi dapat memberikan apa yang saya inginkan, Menulis tidak lagi dapat memenuhi tolok ukur yang sekarang sudah akrab dengan kepala saya, menanamkan akarnya jauh ke dalam sel-sel otak saya.

Setelah saya meninggalkan Menulis beberapa lama, saya berkenalan dengan Couchsurfing Writers Club (CSWC), yang rutin mengadakan kegiatan menulis bersama setiap Kamis malam di Bandung, berlokasi di satu tempat ke tempat lainnya acap kali. Karena saya sudah mulai merindukan Menulis, atau mungkin perasaan yang datang menghampiri ketika saya sedang akrab dengan Menulis, saya pun mencoba mengikuti kegiatan itu. Tidak ada hal yang benar-benar istimewa malam itu—saya datang, saya duduk dan berkenalan dengan orang-orang baru, kemudian... Kemudian saya Menulis. Ketika saya membacakan hasil tulisan saya untuk para peserta CSWC di Little White Cafe malam itu, saya mendapatkan sesuatu yang entah kenapa selama ini saya lupakan—pencerahan.

Sepulang saya dari acara itu, saya menghabiskan beberapa waktu untuk berpikir kembali dan mengakui bahwa saya salah. Bukan Menulis yang saya benci, melainkan diri saya sendiri. Waktu itu saya sedang mengalami guncangan hebat di dalam hati dan pikiran saya. Tidak banyak orang yang tahu, atau yang mau tahu, karena waktu itu saya sangat tertutup, bahkan terhadap diri sendiri. Kenapa perasaan itu muncul, biarlah saya menceritakannya lain waktu, ketika saya sudah siap. Yang pasti, sekarang yang harus saya ingat, adalah bahwa Menulis tidak salah.

Sebaliknya, Menulis justru membantu saya mengerti lebih baik diri saya sendiri, sebagaimana dilakukannya ketika saya berteman baik dengannya di bangku sekolah. Dan hubungan itulah yang saya rindukan dengan Menulis. Rindu ini begitu kuat, seolah-olah ia memukul-mukul dada saya dari dalam, memaksa keluar, ingin bebas dan berteriak kepada dunia bahwa dia ada, dan dia nyata. Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki hubungan saya dengan Menulis? Mungkin, memahami bahwa saya tidak membencinya adalah awal yang baik. Dan mungkin, berpartisipasi dalam kegiatan seperti ini akan mendorong saya untuk memaafkan diri saya sendiri, dan untuk memberikan perhatian lebih kepada Menulis.

Semoga hubungan kami bisa menjadi semakin mesra.

RELATED POSTS

2 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?