Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Isyarat (30 Hari Menulis #17)

6/17/2017 11:29:00 AM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , , , , , ,

Berapa kali dalam hidupmu kamu berada pada situasi sulit di mana kamu tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarmu karena masalah bahasa? Mungkin tidak sesering seseorang yang saya temui di KL Sentral beberapa tahun lalu.

Picture taken from inc.com
Waktu itu, surya sudah memulai perjalanan pulangnya. Saya duduk di sudut salah satu restoran, menunggu teman saya yang tidak kunjung datang. Penyakit kronisnya, memang. Batang hidungnya tidak akan menampakkan diri hingga setidaknya sejam lewat waktu yang dijanjikan.

Bisa dimaklumi bagaimana kesalnya saya waktu itu. Saya tidak begitu suka menunggu, tapi mau bagaimana lagi? Di kota yang berisi 1,76 juta jiwa dari berbagai tempat di dunia ini, teman saya itu salah seorang dari hanya beberapa yang berasal dari negara yang sama dengan saya.

Ketika saya sedang menyusun pesan untuk menanyakan posisinya, seorang perempuan datang menghampiri meja saya. Saya menengok. Hari ini, saya tidak begitu mengingat wajahnya, atau rambutnya, atau pakaian yang dikenakannya. Dia terlihat sama saja seperti kebanyakan orang. Tidak ada alasan baginya untuk terlihat berbeda, lagipula.

Yang saya ingat adalah raut mukanya. Begitu layu. Rasanya, rasa letihnya dapat saya rasakan hanya dengan informasi yang ditawarkan mukanya saja.

Tanpa berkata apa-apa, dia meletakkan beberapa benda di atas meja tempat saya sudah selesai makan. Beberapa gantungan kunci. Semuanya terbuat dari kayu, dan desainnya memang manis. Ada desain hati dan juga jangkar. Di sampingnya, terdapat sebuah kartu.

Di kartu itu tertulis, "I am deaf. I made this, and would love for you to buy it. One is RM5. Thank you very much. (Saya tuli. Saya membuat gantungan kunci ini, dan berharap Anda membelinya. Harga satuannya lima ringgit. Terima kasih banyak.)"

Saya berusaha menyembunyikan rasa malu saya. Di sini saya duduk, di sebuah restoran di luar negeri tempat saya baru saja selesai menikmati makanan enak, bermain dengan ponsel yang dihadiahi oleh orang tua saya, dan merasa marah karena saya harus duduk di tempat itu untuk satu jam lebih lama demi menunggu teman saya. Saya lupa, betapa beruntungnya saya karena dapat melakukan itu semua. Saya lupa, ada banyak orang di dunia ini yang berharap untuk memiliki hidup saya.

Setelah memutuskan untuk membeli tiga buah gantungan kuncinya, saya menyerahkan tiga lembar uang RM5 kepadanya. Ia hanya mengangguk, tanpa membuat kontak mata dengan saya. Tapi ekspresi dan bahasa tubuhnya segera berubah ketika saya melakukan gerakan yang sangat sederhana.


"Terima kasih," ujar saya dalam bahasa isyarat.

Saya tidak akan lupa bagaimana dirinya bersinar hanya karena saya berterima kasih kepadanya dalam bahasa yang dapat dia mengerti. Dengan semangat, dia mulai menggerakkan tangannya lagi, mengucapkan beberapa kata kepada saya. Setelah itu dia mengangguk, saya mengangguk, dan kami berpisah. Saya masih duduk di sana, sementara dirinya sudah pergi untuk menjajakan kembali barangnya kepada pelanggan lain restoran itu.

Malunya saya. Malu. Menyesal sekali saya hanya mengetahui beberapa kata saja dalam bahasa isyarat, itu pun saya pelajari dari Internet dan serial televisi yang saya sukai waktu itu. Jika saja saya lebih bersemangat dalam mempelajarinya, jika saja saya mengetahui lebih banyak kata dalam bahasanya... Mungkin saya bisa mengajaknya untuk duduk sebentar bersama saya, beristirahat, minum dulu untuk melepaskan lelahnya. Saya malah hanya bisa terdiam dan tenggelam dalam penyesalan.

Ketika saya baru tiba di Malaysia, awalnya saya takut akan banyak masalah komunikasi dengan orang-orang lokal. Saya tidak tahu apa-apa tentang bahasa Malaysia. Untungnya, saya menguasai bahasa Inggris, dan kebanyakan orang-orang yang berkomunikasi dengan saya juga. Tapi bayangkan jika satu-satunya bahasa yang saya mengerti adalah bahasa isyarat, dan hanya sangat sedikit dari semua orang yang saya temui dalam satu hari yang dapat mengerti saya tanpa bantuan kertas dan pena. Bayangkan saja.

Ketika teman saya akhirnya datang, saya memberikan salah satu gantungan kunci saya kepadanya. "Oh, apa ini?"

"Gantungan kunci."

"Buat aku?"

"Iya."

Dia berterima kasih kepada saya, kemudian mengajak saya untuk segera pergi ke tempat yang akan kami kunjungi.

Yang tidak saya katakan kepadanya, adalah justru saya yang berterima kasih. Kalau dia tidak telat, mungkin saya tidak akan bertemu dengan gadis penjual gantungan kunci itu. Mungkin saya tidak akan diingatkan untuk bersyukur dengan segala keberuntungan yang saya miliki dalam hidup.

Mungkin saya masih akan lupa bahwa ketika dijembatani, perbedaan bukanlah hal besar di antara dua manusia. Komunikasi masih bisa berjalan dengan lancar. Dari situ terbitlah pengertian, kemudian kasih sayang dan cinta.

Mungkin saya belum akan mengerti bahwa semua orang itu memiliki hak dan kewajiban yang sama: untuk dimengerti, dan untuk saling mengerti.

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?