Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Catcall: Pelecehan terhadap Wanita yang Tidak Boleh dianggap Normal (30 Hari Menulis #5)

6/05/2017 10:47:00 PM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , , , , , , , , , ,

"Cewek," keluar sebuah kata yang biasanya terdengar normal namun kali ini terasa sangat merendahkan dari seorang laki-laki muda yang berjongkok di sekitar Stasiun Kiaracondong suatu siang. Beberapa temannya tertawa. Beberapa lagi bersiul-siul, sambil tersenyum nakal terhadap sang perempuan yang mempercepat jalannya seraya menundukkan kepala.


Kejadian itu terjadi di area yang padat oleh orang banyak, namun tidak ada seorangpun mengindahkan. Hiruk-pikuk kegiatan tetap berjalan seperti biasanya, seolah tidak ada orang yang dengan sengaja melukai perasaan dan harga diri orang lain di hadapan mereka.

Picture taken from Huffington Post
Disebut catcall dalam bahasa Inggris, rasanya tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang dengan tepat menggambarkan kejadian ini secara spesifik. Mungkin hal ini karena catcall tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting--justru sebuah realita yang sudah dirasa normal.

"Ya emang gitu kalo cewek sendirian," mungkin kamu pernah mendengar seseorang berkata. "Cowok mah emang suka gitu. Cuekin aja."

Saya pikir, jangan-jangan pemikiran macam inilah yang membuat catcall sebuah kejadian yang sering terjadi di hari-hari kita. Pemikiran bahwa laki-laki memang tidak bisa mengendalikan pikiran dan hawa napsu mereka ketika melihat seorang perempuan, apalagi yang sedang berjalan sendirian tanpa "penjaga" alias pria lain. Pemikiran yang hanya cocok di jaman terbelakang yang entah bagaimana masih bertahan sampai sekarang.

Padahal, saya sangat yakin kaum laki-laki tidak sehewani itu. Orang mana pun yang menghormati satu sama lain, pasti melihat orang lain sebagai manusia, bukan objek yang boleh diejek semaunya. Ketika melihat seorang perempuan sedang berjalan sendirian, pria-pria yang normal tidak akan bersiul, atau melontarkan kata-kata semacam, "Cemberut aja, Neng." Mereka hanya akan membiarkan sang wanita lewat, karena haknya untuk lewat. Mereka tidak akan mengikuti sang wanita dengan pandangan mereka, untuk kemudian dibicarakan dengan teman-teman mereka. Karena pria-pria normal yang berpendidikan punya sejuta lebih topik lain untuk dibahas daripada wanita yang kebetulan lewat di depan mereka.

Jadi, kalau begitu, laki-laki macam apa yang melakukan pelecehan ini dengan mudahnya? Tebakan saya sih, mereka orang-orang yang tidak menghargai orang lain. Mungkin di otak kecil mereka, anggapan bahwa laki-laki jauh lebih superior dibanding perempuan masih berakar kuat. Orang-orang seperti inilah yang di zaman modern seperti sekarang ini masih tertawa dengan kelakar-kelakar bernada, "Perempuan itu harusnya di dapur! Go make me a sandwich!" yang tidak ada lucu-lucunya.

"Kamu kaku banget sih, Git. Itu kan pujian," kata seorang teman, dulu. Saya geleng-geleng kepala. Jujurlah kepada diri sendiri, jika hal ini yang terjadi padamu, apa kamu tetap akan menganggap "cewek!" atau "main sama Abang yuk, Manis..." sebuah pujian? Tidak. Yang ada, kamu akan merasa jijik. Kamu akan merasa seperti harga diri kamu baru saja dirampas sama orang-orang yang tidak kamu kenal, dan tidak akan pernah kamu temui lagi. Harimu akan ternoda, dan untuk apa? Untuk memuaskan para pria jahil yang kehausan ego, sebagai cara untuk "membuktikan" bahwa mereka "jantan", entah oleh standar siapa.

Yang saya minta adalah untuk tidak menganggap bahwa catcalling itu normal. Hal seperti ini jelas-jelas termasuk pelecehan, lho. Ajarkan anak-anakmu bahwa perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya, semua harus dihargai. Ingatkan om dan tantemu bahwa "cowok memang gitu" itu sudah tidak bisa diterima di masa sekarang ini. Ketika catcalling terjadi kepada temanmu, dan dia merasa lemah karena tidak berani melawan para laki-laki yang tidak mengerti etika itu, tunjukkan padanya bahwa perasaannya valid dan kejadian itu sama sekali bukan salahnya.

Karena tidak ada perempuan yang ingin dilecehkan. Apa pun yang dikenakannya, jam berapa pun dia berjalan, perempuan itu hanya memiliki satu tujuan: dan itu bukan sebagai objek untuk kau goda.

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?