Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Tenggelam dalam Fiksi (30 Hari Menulis #13)

6/13/2017 11:53:00 PM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , ,


Saya menghabiskan beberapa jam di hari ini untuk melahap habis sebuah novel karya Nicola Yoon, The Sun is Also A Star. Ketika saya menyelesaikannya, Ayah bertanya kenapa saya menutup muka saya dengan tangan. Saya hanya menggeleng, mencoba untuk tidak menitikkan air mata. Di kepala saya, saya hanya bisa berkata berulang-ulang, "Buku ini bagus banget, bagus banget!"

Hal ini yang saya senangi dari membaca buku, atau menonton film sekalipun. Saya menikmati perasaan saya yang dibawa terbang ke atas, untuk kemudian dicabik-cabik lagi. Betapa kagum saya dibuat para pengarang ini, dengan kemampuan mereka untuk membuat saya merasakan banyak hal hanya melalui kata-kata yang mereka rajut.

Saya tidak sendiri, tentu saja. Menurut sebuah penelitian oleh PEW, ada bermacam-macam alasan orang memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku. Ada yang bilang mereka suka pelajaran dan informasi yang mereka dapatkan dari membaca, ada juga yang menganggap membaca sebagai pelarian dari dunia nyata.

Membaca buku tentunya dapat menjadi pilihan hiburan, apalagi dengan beragamnya genre buku di luar sana. Tapi tahukah bahwa membaca buku, terutama fiksi, dapat membantu mengembangkan empati? Itulah yang dijadikan kesimpulan oleh para ilmuwan di The New School, New York City, terhadap penelitian mereka.

Sayangnya membaca buku bukanlah pilihan hiburan bagi kebanyakan orang Indonesia. Nyatanya, dari enam puluh satu negara yang ada di dunia, Indonesia menempati posisi ke-60 untuk ukuran minat baca, menurut sebuah studi yang bertajuk "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University.

Kira-kira kenapa ya? Apakah karena akses kepada buku kurang mudah, karena jarak, waktu, atau harga? Apakah karena tidak dibiasakan sejak kecil? Apa yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak kita, sang generasi penerus? Mungkin ini bisa menjadi bahasan untuk lain hari.

Hari ini, mari kita membahas orang-orang yang memang gemar bergelut dalam dunia fiksi.

Pernah dengar nama Erick Setiawan? Dia menulis sebuah buku berjudul Of Bees and Mist, yang menjadi finalis untuk QPB's 2010 New Voices Award, dan longlisted untuk 2011 International IMPAC Dublin Literary Award. Saya pertama mendengar tentang pengarang yang lahir di Jakarta ini malah dari Maggie Stiefvater, pengarang asal Virginia yang menulis serial favorit saya, The Raven Cycle.

Bagaimana dengan Eka Kurniawan, orang Tasik yang karyanya Lelaki Harimau telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Man Tiger dan nantinya longlisted untuk Man Booker Prize 2016? Negeri Lima Menara hasil goresan pena Anwar Fuadi yang diterjemahkan menjadi The Land of Five Towers? 9 Summers 10 Autumns, karya Iwan Setiawan?

Intinya, banyak sekali pengarang Indonesia yang membuktikan bahwa literatur lokal ternyata juga bisa menghibur dan menjadi bahan pemikiran bagi masyarakat dunia. Tidak ada alasan mereka tidak menjadi pilihan  Saya berharap, semakin banyak orang Indonesia yang memiliki waktu luang untuk melahap buku-buku. Karena sesungguhnya, tidak banyak hal di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan perasaan ketika kita baru saja selesai membaca buku favorit kita.

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?