Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Apa yang Kamu Cari Ketika Nonton Wonder Woman? (30 Hari Menulis #6)

6/06/2017 04:11:00 PM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , , , , , , ,

"Error 404: Boob Not Found"

Poster film Wonder Woman (2017)
Kalimat itu benar-benar diketik oleh seorang pria sebagai pembuka ulasannya terhadap film layar lebar Wonder Woman yang sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia saat ini. Ketika saya membaca kalimat itu di beranda laman Facebook, saya spontan menghela napas saya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Di grup Facebook yang sama, saya pernah membaca seseorang yang bertanya, "Eh, nonton Wonder Woman pas puasa tuh nurunin pahala nggak sih?" yang menginspirasi tweet ini:




Gini, deh. Saya tidak akan pura-pura bahwa saya jago masalah agama, jadi saya tidak akan membahas kalimat dan pertanyaan tentang tubuh Gal Gadot dari segi dosa dan pahala. Lagipula saya yang kotor berlumuran dosa ini tidak pantas jadi hakim. Yang akan saya bahas adalah kewajiban kita semua sebagai umat manusia untuk menghargai satu sama lain.

Kok tiba-tiba jadi bahas penghargaan kita terhadap orang lain, Git? Ya, karena pelecehan terjadi ketika seseorang tidak menghargai orang lain. Kalau saat mendengar berita bahwa akan ada film Wonder Woman, dan yang terbersit di kepala seseorang adalah, "Yang jadi Diana Prince toketnya gede nggak ya?" itu artinya orang tersebut tidak menghargai sang aktris sebagai seorang manusia--hanya sebagai sebuah objek untuk dipandangi, dan mungkin sebagai bahan imajinasi.

Memang agak sulit berpikir tentang seorang selebritas sebagai manusia biasa yang sama saja dengan kita--entah karena "status" mereka yang dianggap lebih tinggi dari kita di mata sosial, atau karena harta mereka yang tidak akan pernah didapatkan sebagian dari kita meskipun telah bekerja keras di pekerjaan sekarang selama tujuh turunan, atau karena berita-berita tentang mereka selalu sensasional. Foto-foto mereka yang bertebaran di Internet dan kebiasaan sebagian dari kita untuk berkomentar mungkin membangun pikiran bahwa kita memiliki hak untuk mengomentari dan menuntut mereka untuk memiliki tubuh yang kita inginkan.

Tapi jika hanya karena itu kita jadi tidak menghargai para aktor dan aktris ini sebagai manusia, itu berarti ada yang salah dengan sistem moral kita. Kalau kita tahu bahwa mereka ini lebih dari sekedar tubuh langsing dan muka yang mulus--kalau kita tahu bahwa mereka memiliki kemampuan akting yang berhasil meniupkan kehidupan ke sebuah gambar bergerak yang menyebarkan cerita dan pesan kepada banyak orang--kenapa kita tidak bersikap seperti itu?



Mungkin orang-orang tersebut tidak sengaja melakukan pelecehan. Bagaimanapun, dengan kondisi mereka yang tinggal dan tumbuh di Indonesia yang budaya patriarkinya masih berbekas hingga sekarang, tidak menutup kemungkinan mereka bahkan tidak mengerti apa yang mereka lakukan tidaklah etis. Mungkin mereka mencontoh orang tua mereka yang memiliki kebiasaan untuk berkomentar terhadap tubuh seseorang dan beranggapan bahwa hal itu wajar.

Saya bukan orang suci. Saya yakin saya juga kadang-kadang masih terjerembap ke pemikiran bahwa tubuh orang lain adalah urusan saya. Nah, merupakan kewajiban kita, pikir saya, untuk mengingatkan diri kita sendiri dan orang-orang seperti ini bahwa pelecehan itu tidak benar--apapun bentuknya.

Sangat penting juga untuk mengajarkan anak, cucu, keponakan kita sebagai generasi penerus untuk saling menghargai satu sama lain. Ajarkan mereka bahwa seseorang tidak dinilai dari penampilan mereka, tapi dari hati dan perilaku mereka. Ajarkan mereka untuk menjadi generasi cerdas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap satu sama lain. Ajarkan empati. Ajarkan altruisme.

Ajarkan, bahwa mereka semua bisa menjadi Wonder Woman kalau mereka mau.

(Eh tapi jangan ajak ngobrol saya soal Wonder Woman dulu ya, saya belum nonton filmnya huhuhu...)

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?