Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Ketika Rapuh Menjadi Utuh (30 Hari Menulis #2: Film Terbaik)

6/02/2016 08:33:00 PM Gita Diani Astari 0 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , ,

Manusia itu rapuh.

Banyak hal yang membuat kerapuhan ini semakin kentara: ego, keangkuhan, dan keinginan yang tidak tercapai, misalnya.


Penulis, menurut saya, adalah salah satu kategori manusia yang memiliki kerapuhan yang lebih dalam dari kategori-kategori lainnya. Para penulis biasanya tenggelam, sengaja atau tanpa sengaja, dalam hal-hal yang membuat hidup itu nyata.

Kebahagiaan, dan sebaliknya, kesedihan, adalah hal-hal yang menciptakan rasa dalam kehidupan. Tanpa mereka, bisakah kita merasa hidup? Para penulis mengenal dengan akrab hal-hal ini—kebahagiaan dan kesedihan—bahkan dalam bentuk mereka yang ekstrim.

Lewat film Stuck In Love yang dirilis ke layar lebar pada tahun 2012 lalu, kita bisa menyaksikan dunia yang sempit dan individu-individu rapuh di dalamnya lewat kacamata seorang penulis dan dua anaknya, yang juga penulis.

Ada satu hal yang dibutuhkan seluruh manusia di muka bumi: cinta. Ada satu hal yang diinginkan seluruh manusia di muka bumi: cinta yang berbalas. Ada macam-macam cerita cinta yang terjadi di muka bumi: cinta terhadap keluarga, cinta terhadap teman, cinta terhadap pasangan, cinta yang berbalas, cinta yang tidak berbalas.


William Borgens (Greg Kinnear) kehilangan cintanya ketika sang istri memutuskan untuk meninggalkannya setelah berselingkuh dengan orang lain. Anak gadisnya, Samantha (Lily Collins), kehilangan kepercayaannya terhadap cinta karena itu. Sementara anak lelakinya, Rusty (Nat Wolff), kehilangan kepercayaan dirinya untuk mengejar cinta, dan hanya bisa memuntahkan perasaannya dengan pena pada sebuah kertas, setelah memandangi gadis impiannya di kelas.

Mereka rapuh.

Tapi dalam kerapuhan mereka, hidup terasa nyata. Dalam kerapuhan mereka, mereka mampu menyadari hal apa yang lebih penting daripada tenggelam dalam ketidakadaan yang mereka rasakan. Dalam kerapuhan mereka, perubahan sedikit demi sedikit diperjuangkan. Pada akhirnya, kerapuhan mereka tidak menjadi satu-satunya hal yang dapat menjelaskan siapa mereka sebenarnya—justru, dengan kebahagiaan yang mereka kejar, hal-hal yang rapuh berubah menjadi utuh.

Perjuangan menuju keutuhan itulah yang membuat saya sangat menyukai film ini.

(Selain Logan Lerman dan soundtrack yang keren-keren, sih.)

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Yah mumpung nyasar, mengeksiskan diri dulu aja deh di sini. :) Nyasar lagi yaa~