Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Kaki Lotus, Standar Kecantikan Tiongkok Kuno (30 Hari Menulis #18)

6/20/2016 07:35:00 AM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , , , ,

Gambar diambil dari Getty Images
Rasanya hampir semua orang pasti pernah dengar istilah "foot binding" deh. Pengikatan kaki wanita-wanita Tiongkok jaman dulu ini katanya sih diawali dari tarian Yao Niang, selir Emperor Li Yu, yang sangat menawan. Waktu itu sang Emperor meminta selirnya untuk mengikat kakinya dengan sutra putih sehingga membentuk bulan sabit, untuk kemudian menari seperti tari balet di atas lotus itu. Saking anggunnya tarian ini, banyak orang yang ingin meniru Yao Niang, sehingga mereka kemudian ikut mengikat kaki mereka.

Hal ini kemudian berkembang: para wanita berstatus tinggi mengikat kaki mereka, dan kaki anak-anak perempuan mereka, untuk memperlihatkan prestise mereka. Ceritanya sih filosofi di balik hal ini adalah karena mereka tidak perlu bekerja seperti para rakyat jelata, jadi mereka tidak begitu membutuhkan kaki mereka. Lambat laun kebiasaan ini bahkan menyebar ke wanita-wanita yang tidak berstatus tinggi, sebagai cara untuk mempercantik diri agar dapat menikah dengan bangsawan.

By the way, semua informasi ini saya ambil dari Wikipedia langsung, ya. Saya bukan sejarawan, sayangnya. Yang mau saya bahas bukan akurasi sejarahnya, melainkan... KENAPA?

Gambar diambil dari Wikimedia Commons
Untuk yang mau melihat "hasil" foot binding di jaman modern, sila klik link ini ke artikel photo journalism Guardian karya Jo Farrell. I'm warning you, it's not pretty. Kaki saya linu sendiri melihat betapa deformed-nya kaki wanita-wanita tua itu. Beberapa dari mereka sebenarnya masih bisa berjalan, bahkan ada atlet bowling yang sering pergi keluar desa untuk bertanding. Tapi melihat kondisi kaki mereka yang seperti itu, saya benar-benar heran kenapa hal ini bertahan lama sekali sampai akhirnya dilarang.

Rasanya konyol sekali, jutaan dan jutaan wanita dan anak gadis harus menderita untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak masuk akal. Semua kecacatan dan penderitaan yang mereka derita ini hanya berawal dari seorang pemimpin yang memiliki ide untuk mengikat kaki penarinya. Betapa mengerikan kekuatan seorang penguasa terhadap subyek-subyeknya!

Menderita demi kecantikan sebenarnya masih terjadi sekarang ini. Ada standar kecantikan yang disebar oleh media kali ini, bukan Emperor atau Raja atau Presiden sebuah negeri. Di kebanyakan tempat di dunia ini, wanita dianggap cantik jika tubuhnya ramping, dan pria dianggap gagah jika tubuhnya atletis. Meskipun sebenarnya bentuk tubuh tiap orang berbeda, standar kecantikan ini tetap sama. Karena itu akhirnya banyak orang yang menderita: misalnya dengan eating disorder, atau over-exercising. Semua ini gara-gara mereka - kita - ingin merasa diterima oleh orang lain. Setidaknya menurut saya, ya.

Nah, daripada kita semua harus melalui proses yang menyakitkan dan sebenarnya dangkal dan duniawi ini, apakah nggak lebih baik bagi kita semua untuk belajar menerima orang lain, dan diri sendiri, apa adanya? Nilailah orang dari apa yang ada di dalam dirinya, bukan dari luar. Misalnya dari kebiasaannya berdonasi untuk anak-anak yatim piatu, atau hobinya membaca buku-buku astronomi, atau laptopnya yang dipenuhi oleh koleksi video JAV.

... Eh.

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?