Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Filsafat

6/13/2011 03:02:00 PM Gita D. Astari 0 Comments Category : , , , ,

Semalem dne iseng nyalin tips-and-tricks dari Internet ke notebook dne, dan selama dne nulis poin-poin itu, dne jadi sadar: untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu yang lain.

Di kelas Philosophy (dan dibahas juga di Social Psychology karena dosen Soc Psych doyan filsafat), dibahas gimana seorang philosopher (yang dne lupa namanya) berpikir bahwa ada sebuah perjanjian di antara masyarakat dan pemimpinnya. Supaya pemimpinnya bisa melindungi mereka, masyarakat “memberikan” sebagian kebebasan mereka.

Contohnya, let’s say kita penduduk Indonesia. Kita tinggal di Indonesia pengen aman dong, ya? Nah, pemerintah bersedia melindungi kita dengan menggaji polisi dan tentara. Untuk menggaji polisi dan tentara ini pemerintah butuh uang, yang pemerintah dapatkan dari pajak. Nah, pajak ini bentuk sebagian kebebasan yang kita berikan. Kalo dipikir kan, kita yang kerja keras, kenapa kita harus ngasih sebagian duit yang kita dapet ke pemerintah padahal pemerintah nggak ngebantuin apa-apa dalam mengerjakan pekerjaan kita? Soalnya kita udah ada perjanjian sama pemerintah. Pemerintah lindungin kita, kita bayar pajak. Kira-kira gitu deh, dne bingung ngasih contohnya gimana, dne ga bisa ngajarin orang soalnya hehe.

Yang mau dne omongin sebenernya adalah, dne baru sadar bahwa dne selama ini salah. Semalem dne nonton biografi Rasulullah dari History Channel. Di sana ada kalimat, “Islam means surrendering to God’s will.” Artinya, dne nggak bisa tetep mempertanyakan alasan Allah mengharamkan beberapa hal yang pengen dne coba atau yang menurut dne udah nggak berlaku seiring perkembangan zaman dan tetep mau masuk surga dengan mudah, karena dne nggak menyerahkan cukup kebebasan kepada Allah. Ternyata memang harus milih antara mau jadi Muslim yang baik dengan segala keterbatasannya atau Muslim KTP dengan segala dosanya.

Soalnya kalo kita liat kenyataan sekarang, nggak mudah jadi Muslim di negara luar. Kalo di Indonesia, sure, mesjid di mana-mana, tiap mall punya mushalla, makanan halal gampang dicari, cewek pake serba panjang-panjang plus penutup kepala meskipun panasnya segimana juga normal. Bayangin Jepang. Cina. Afrika Selatan. Australia. Brazil. Rusia. Artinya kalo kita mau terbuka dan pergi ke dunia dan tetep menjadi Muslim yang utuh, itu kita harus kuat mental untuk bilang tidak ke tiap ajakan ramah temen-temen untuk misalnya makan makanan enak yang ternyata nggak halal, have fun di club yang tentu saja penuh minuman haram dan godaan, berpakaian trendy yang menyebar aurat ke mana-mana.

Yah nggak perlu ke luar negeri juga sebenernya hanya dengan memeluk agama Islam (atau agama pada umumnya, sebenernya) kita menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan. Kedengerannya nggak ngenakin, tapi sebenernya itu wajar-wajar aja. Kita minta sama Allah untuk masuk surga, Allah bilang oke, tapi kamu nggak boleh gini-gini-gini ya. Kita tahu hal-hal apa aja yang Allah nggak mau kita lakuin, dan itulah yang harus kita bayar agar kita bisa masuk surga dengan layak. Sekarang tinggal apakah kita lebih memilih seneng-seneng dengan hal-hal duniawi, atau sabar di dunia untuk menikmati kebahagiaan eternal di akhirat.

RELATED POSTS

0 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?