Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Gitadine dan Pernikahan Muda

7/02/2011 07:20:00 PM Gita Diani Astari 3 Comments Category : , , , , , , ,

Buat pembaca yang di bawah 18 nggak usah dibaca ya posting yang ini, baca review Transformers 3 atau Kung Fu Panda 2 aja ya? :)

Picture taken from http://www.newsrealblog.com without permission

Ada satu pasangan lagi temen dne yang nikah tahun ini, dan dua-duanya seumur sama dne (sekitaranlah). Udah pasti dne jadi mikirin pernikahan kan. Pasti reaksi pembaca sekitar, “Lah baru 20 udah mikir yang jauh-jauh…” Iya juga sih, tapi dne pikir, lama-kelamaan dne pasti mengalaminya juga (amin), kenapa nggak dipikirin aja kalo emang mau mikirin, kan Indonesia negara demokratis.

Oke nggak nyambung.

Intinya, dne jadi mikir soal pernikahan. Kenapa orang menikah segala?

Kalo untuk dne sih, pernikahan itu sesuatu yang meresmikan hubungan dua orang di dunia, mengumumkan komitmen mereka kepada semua orang untuk setia, juga mendapatkan fasilitas-fasilitas negara yang ditujukan kepada pasangan menikah (kalo ada). Tapi yang paling penting adalah pernikahan itu membuat hubungan seksual menjadi halal, karena dne Muslim ya. Untuk meresmikan hubungan sih jaman sekarang kan udah terkenal istilah pacaran (yang bagi sebagian Muslim dianggap haram, and I understand why) atau malah tunangan (yang meskipun romantis dne nggak ngerti fungsinya apa).

Anyway, dne pikir, kalo memang di usia muda sudah yakin ketemu sang jodoh, si dia, the one, menikah muda bukan pilihan yang salah. Justru romantis banget malah. Mungkin agak susah mendapat izin dari orang tua kedua pihak, tapi kalo bisa membuktikan bahwa pasangan ini mantep banget mau tie the knots, dan bukan untuk alasan yang salah, dne rasa sah-sah aja lho. Kayak pasangan Marshall dan Lily di How I Met Your Mother (LOVE this show!), yang membuktikan bahwa setia sama satu orang sejak usia muda sampai akhir hayat itu bukanlah sesuatu yang impossible. Oke, mereka pasangan fiksional, tapi dne yakin di luar sana ada juga yang seumur hidup cuma mencintai satu orang. Pasangan yang berawal dari ta’aruf, misalnya.

Gila posting dne rada-rada pekat ya nuansa Islamnya padahal pengetahuan dne tentang agama dne minim banget…

Back to topic, dne rasa kalo dne udah ketemu sang jodoh, si dia, the one, dan dne yakin sekali soal itu, dne nggak akan keberatan untuk nikah muda. Justru, seperti yang dne bilang, romantis banget. Asalkan dne dan si dia udah bener-bener siap, mentally, physically, financially, dan disetujui keluarga dua belah pihak, dne bakal bilang, “Let’s do this!”

Bukannya dne mau buru-buru juga sih, cuma kalo ngebayangin pernikahan itu dne jadi, “Awww…” Hehehe. Makanya agak kaget pas denger beberapa temen yang ngaku bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang penting dan harus ada di daftar hal-hal-yang-harus-dilakukan-sebelum-mati mereka. Alesan mereka cukup masuk akal sih. Mereka bukan Muslim (sebagian justru atheis), jadi mungkin di agama mereka hubungan seksual pranikah bukan hal yang besar, dan kalau untuk mendapatkan kepuasan seksual dari pasangan tidak harus melalui proses pernikahan, kenapa repot-repot mengeluarkan biaya besar untuk mengundang semua teman yang dikenal, menyewa gedung, membeli gaun, dan segala macem untuk mengadakan acara pernikahan? Juga mereka nggak percaya dengan kemampuan untuk setia dengan satu orang seumur hidup. Gimana kalo setelah menikah, kemudian mereka baru ketemu the one mereka, dan selama ini mereka nggak tahu? Lagipula, siapa yang bakal tahu bahwa seseorang adalah the one mereka? Satu alasan mereka lagi adalah, mereka nggak percaya dengan teori setiap orang punya the one masing-masing, atau cuma ada satu.

And you know what? I completely understand!

Semoga nggak ada yang salah sangka dan berpikir bahwa “si Gitadine sangka nikah cuma buat seks doang dong…” Eits ya ampun bukan bukan bukan. Meskipun kayaknya bahasa dne di posting ini mengarah ke sana, sebenernya yang dne maksud dengan kepuasan seksual itu segala macem kontak fisik, bukan cuma hubungan intim suami istri doang. You know the kind. Dne tipe orang yang hopeless romantic, jadi dne sangat-sangat menyukai the idea of holding hands, hugs and kisses. Dan karena dne seorang Muslim, dne nggak bisa melakukan semua itu unless to someone I’m married with. Jadi, begitulah! Dne mau romantismenya, bukan cuma seksnya. Get it? :)

PS: By the way, coba klik gambarnya dan baca artikelnya. Sedih banget ya begitu tahu masih banyak sekali orang di dunia ini yang narrow-minded, baik dari pihak Muslim, Kristen, atau agama mana aja. Kalo aja orang-orang belajar untuk mengerti satu sama lain, pasti perdamaian dunia bukan hal yang impossible.

RELATED POSTS

3 orang nyasar

  1. yup, setuju kalo pernikahan bukan satu jalan keluar buat menghalalkan hubungan suami-istri aja, tapi romantisme dan hubungan batin mendalam antara cewe sama cowo... ah, Gita udah gedeeee... ehehehe... ntar kalo nikah, jgn lupa undang aku yah.. :D

    ReplyDelete

Yah mumpung nyasar, mengeksiskan diri dulu aja deh di sini. :) Nyasar lagi yaa~