Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Tentang Donasi Daring dan Persatuan Bangsa

11/22/2016 01:51:00 PM Gita D. Astari 2 Comments Category : , , , , , , , , , , ,


Kamis lalu, hal pertama yang saya lihat waktu saya buka Facebook adalah sebuah alat bantu napas yang duduk di wajah seorang ibu. Matanya tertutup. Ekspresinya kesakitan. Ternyata itu adalah ibu temennya temen saya, yang mengidap kanker dan membutuhkan bantuan dana. Tautan yang ada langsung saya bagikan ke teman-teman saya lewat beberapa media sosial.





Barusan, saya menerima email dari KitaBisa.com, platform donasi yang digunakan untuk menggalang dana bantuan untuk Bu Defi. Isinya menyayat hati: beliau ternyata sudah tenang di alam sana sejak hari Sabtu.

Saya nggak kenal Bu Defi. Bahkan sama anaknya pun saya nggak kenal. Meski begitu, rasa sedih dan kehilangan tetap hinggap di hati saya. Mungkin karena tahun ini saya awali dengan berada di sebuah rumah sakit untuk memberi dukungan terhadap teman saya yang ibunya pun pergi karena penyakit yang sama. Atau mungkin karena saya tidak bisa membayangkan kehilangan ibu saya dengan cara ini.

Tapi juga, hal ini membuat mata saya terbuka. Akhir-akhir ini saya sedang agak kecewa dengan keadaan negara kita yang rasanya terpecah belah karena suatu kasus besar yang pasti semua orang tahu. Bukan hanya kecewa, saya juga sedih dan takut. Saya kira Bhinneka Tunggal Ika yang kita bangga-banggakan hanya tinggal tiga kata yang tidak berarti lagi.

Kekecewaan, kesedihan, dan ketakutan itu sedikit sirna ketika saya melihat bantuan yang sudah dikumpulkan untuk Bu Defi.

Screenshot KitaBisa.com 22 November 2016
Lihat angka yang bertengger di sisi kanan atas? Tujuh puluh tujuh juta rupiah! Dana sebesar itu berhasil dikumpulkan oleh 315 donatur dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Saya yakin, dari 315 itu hanya beberapa yang secara personal kenal dengan Bu Defi atau Fakhrurrozzie Aulia. Masalahnya ternyata bukan kenal atau nggak kenal, tapi seberapa peduli kita terhadap sesama.



Kita nggak akan lupa sama Intan Olivia dan teman-teman kecil kita yang jadi korban kebiadaban seorang teroris pelempar bom molotov di Gereja Oikumene. Di platform yang sama, saya juga menyisihkan sedikit rupiah untuk keluarga para korban, karena nggak bisa memberi dukungan emosional atau fisik secara langsung. Saya termasuk donatur awal, yang ketika saya baru klik tautan donasi, baru terkumpul sekitar Rp75.000.

Screenshot KitaBisa.com 22 November 2016
Lihat ada berapa dana yang terkumpul dari teman-teman kita yang tergerak hatinya! Ratusan juta! Ratusan juta dalam sepuluh hari! Ini baru bantuan berbentuk finansial, lho. Belum lagi bantuan orang-orang lain yang berada di tempat, yang mungkin membantu membawa para korban ke rumah sakit, memberikan pertolongan pertama, mendoakan, memberi dukungan emosional dengan pelukan dan kata-kata yang hangat.

Ini. Ini Indonesia. Ini Indonesia yang saya rindukan, yang saya sayangi. Betapa indahnya negeri ini jika semua orang bisa peduli satu sama lain. Memang kita ini berbeda-beda, tapi daripada melihat perbedaan sebagai sumber konflik, bukannya lebih baik kalau kita melihatnya sebagai keberagaman?

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Mari sama-sama kita tanamkan kembali rasa kekeluargaan ini di dalam hati kita semua.

RELATED POSTS

2 orang nyasar

  1. Sama.
    Gua juga kecewa, sedih, takut...
    Takut banget malah..

    Tapi waktu gua liat berapa dana yg terkumpul, jadi merinding gitu..
    Ternyata keperdulian masih jadi bagian dari bangsa kita.
    Salut

    ReplyDelete

Yah mumpung nyasar, mengeksiskan diri dulu aja deh di sini. :) Nyasar lagi yaa~