Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Nostalgia Malam Minggu

2/04/2012 11:34:00 PM Gita D. Astari 2 Comments Category : , , , , , , , , , , , , , , , ,

Malem Minggu gini enaknya duduk di depan laptop sambil muter lagu-lagu galau, ngetik apa aja yang lagi mampir di benak, sambil sedikit-sedikit nyeruput cokelat panas, ya... Tapi karena di sini adanya cuma Milo dan kebetulan pemanas airnya lagi rusak, jadi yah... Cokelat panasnya harus rela digantikan dengan Milo yang diaduk di air dingin deh... #enek?
Anyway.
Orang ini, selain selera humornya, ternyata bakat nulisnya juga bagus. #iri
Dne baru selesai baca bukunya Fitri Tropika (yes, Fitrop, yang dne baru tau ternyata adalah alumni SMA Negeri 5 Bandung) yang judulnya “Kening”, dan terkaget-kaget dalam artian yang baik ketika dne mendapati bahwa tulisan dia begitu mudah dinikmati. Meskipun Bahasa Inggris-nya kurang grammatically correct, tulisan dia tuh kerasa “dia” banget, ngerti nggak? Meskipun ternyata nggak semua tulisannya bernada humoris seperti personality dia yang ditayangin di TV, tetep ada feel Fitrop tertebar di seluruh halaman buku itu, termasuk di bagian di mana dia lagi galau dan patah hati.
Nggak tau nyambung atau nggak, tapi baca buku ini tuh jadi bikin inget jaman dne SMA, deh. Dan entah kenapa, dne jadi inget sama satu malem di sebuah pantai bernama Cipatujah, yang sampai detik ini masih belum ada yang ngalahin sebagai malam dne yang paling romantis.
Waktu itu, dne sama temen-temen KKS (Klub Konservasi Sekolah) main ke Tasik dan stay di rumah sewaan di Pantai Cipatujah selama 2-3 days (dne lupa tepatnya). Di malam begitu kita sampai, dne diajak gebetan dne waktu itu untuk main ke pantai (in case you’re reading now, yes, I did “ngeceng” you waktu jaman SMA dulu. Meskipun kayaknya udah berita basi ya, secara I was so transparent gitu... Hehehe). Dari sekian banyak orang yang ada di sana, cuma kita berdua yang kabur ke pantai malam itu.
Beberapa temen KKS di lokasi.
Sampe di pantai, yang cuma berjarak literally sekitar 50-an langkah, kita berdua duduk berdampingan di pasir, dengan kepala menengadah ke atas. Dne lupa kita ngobrol apa aja waktu itu, yang jelas dne inget, dne seeeneeeng banget malem itu. Dne inget kita heboh karena ngeliat semacem sinar kelap-kelip di langit yang keliatan kayak bergerak tapi cukup statik. Kayak gerak, tapi laaaambaaaat banget. Pesawat? Nggak mungkin, itu terlalu lambat buat ukuran pesawat. Hmmm... Some sort of menara, then? Nggak juga, terlalu jauh di atas, dan bener-bener keliatan gerak, meskipun superlambat.
Kita saling pandang, seolah tahu pikiran satu sama lain. Cuma satu penjelasan yang masuk akal: Unidentified Flying Object! Kita panik memikirkan bagaimana kita akan survive kalau-kalau pasukan alien itu menyadari kita yang menyadari mereka kemudian memutuskan untuk turun ke pantai dan memulai aksi penyerangan.
Eh, nggak deh, kita paniknya karena tiba-tiba tanpa kita sadarin, sendal-sendal kita mulai terasa basah-basah dingin nggak ngenakin gitu. Pas kita cek penyebabnya, ternyata air laut mulai naik! Kita bukannya berdiri dan jalan seperti orang waras pada umumnya, malah mencoba untuk mundur sambil masih mempertahankan posisi duduk (eh, kebayang nggak?). Walhasil, kamera digital Sony warna biru punya Ayah yang waktu itu dne bawa malah keseret-seret... Dan besoknya nggak nyala, padahal pemandangan di sana indah banget! Lifetime regret deh.
Keren kan? Ini foto sebenernya temen dne yang ambil tapi dne taro di dA hahaha. #curang
Tapi anyway, setelah kita terserang air laut itu (yang mungkin sebenernya some sort of alien attack yang nggak kita sadari... Who knows?), kita berhasil menemukan tempat di mana kita masih bisa menikmati pantai tanpa kebasahan. Dne nggak inget abis itu kita ngobrol apa, tapi dne inget betapa betenya dne ketika temen kita, ketua KKS angkatan dne di mana dne jadi wakil ketuanya (I will always be proud of this fact), memutuskan untuk datang dan join kita berdua. Yah, selesai deh malam romantisnya.
Another story from my high school jidai adalah, waktu kelas 2 SMA, dne secara impromptu dan sebelah pihak dinyatakan ikutan kompetisi Mojang-Jajaka dengan partner dne bernama Billy sebagai perwakilan kelas XI IPA 2. Kejadiannya adalah, seseorang dari OSIS (dne lupa siapa) dateng ke kelas, terus nanya, “MOKA IPA 2 siapa?”
Temen sekelas dne (kalo nggak salah sih si Tiar deh) ngeliat sekeliling, dan kayaknya karena dne adalah cewek yang berdiri paling deket sama dia, dia malah bilang, “Kamu aja atuh, Git.”
EH! “Nggak ah, ini kan lagi sibuk,” tolak dne yang waktu itu kayaknya lagi nyapu (seriously, my memory is baaad). Kita emang lagi beres-beres kelas karena kalo nggak salah kelas yang paling bersih bakal dapet hadiah gitu deh.
“Ayo dong, masa IPA 2 nggak ikutan. Kamu sama Billy gih, yang pergi! Billy kan pinter Bahasa Sunda, kamu pinter Bahasa Inggris...” bujuk Tiar.
Dan entah gimana ceritanya, dne tiba-tiba udah ada di aula aja bareng Billy (yang dne panggil “Aang”, karena kita sama-sama suka Avatar: The Last Airbender dan dia manggil dne dengan sebutan “Katara”). Tanpa persiapan apa-apa, kita ternyata langsung dipanggil masuk panggung detik itu juga. Dne yang nervous dan kena stage fright sama panic attack sekalian malah stay di tempat sambil panik ngeliat sekeliling. Kok nggak ada muka yang familiar ya? Apa aku mendadak hilang ingatan? Siapapun... Tolong! Kembalikan aku pada ibuku...
Karena nggak punya foto berdua Billy, pake gambar ini aja ya (hahaha).
Kayaknya ada yang manggil-manggil dne deh, karena ketika dne sadar dari lamunan dne yang buyar, dne ngeliat Billy udah main jalan ke panggung aja. “Aang... Tunggu!” Forget the graceful walk yang to be expected of seorang mojang Pajajaran deh, dne malah lari-lari untuk nyusul Billy. Sesampainya di depan juri, dne udah blank aja. Waktu panitianya lagi milih-milih dalam bahasa apa dne bakal ditanyain, dne panik dalam hati, berdoa, “Ya Allah please semoga Bahasa Inggris aja please, please, please... Jangan biarkan dne ditanya-tanyain dalam Bahasa Sunda, Ya Allah, karena sungguh, dne nggak bakal ngerti satu katapun... Masa jenengan aja masih suka ketuker sama janggawareng, Ya Allah...”
Dan ternyata dne ditanyain dalam Bahasa Indonesia. Phew.
Dne lupa deh dne ditanyain apa, atau Billy ditanyain apa, atau gimana kita berpose sebagai Mojang-Jajaka, atau gimana kita keluar panggung (but I’m pretty sure kita nggak inget untuk jalan secara anggun deh, karena as far as we knew, tugas kita sudah beres!). Yang dne inget adalah melihat peserta Moka kelas selanjutnya dipanggil. Dengan penuh elegansi, sang mojang dan jajaka berjalan bergandengan tangan, bahkan langkahnya aja pake disamain gitu. Waktu ditanya-tanya, mereka menjawab penuh kesiapan dan percaya diri. Bahkan waktu keluarnya aja kerasa banget kalo mereka ini lagi ikutan kompetisi mojang jajaka. Bedanya tuh udah 180 derajat deh!
Dan tentu saja, kita nggak jadi finalis tiga besar, apalagi menang. Temen-temen sekelas juga nggak ada yang berharap sih, secara kita lebih mentingin kelas bersih (ironisnya, kita bahkan nggak masuk finalis tiga besar kelas terbersih deh kalo ga salah). Yah, ya udahlah. Yang penting IPA 2 berpartisipasi, ya.

RELATED POSTS

2 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?