Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Dilan (Pidi Baiq, 2014)

9/11/2014 09:46:00 PM Gita D. Astari 1 Comments Category : , , , , ,

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.
Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."
(Dilan 1990)

Quote yang secara strategis ditaro di cover belakang bukunya itulah yang seketika bikin hati saya kepincut Dilan, selain covernya yang simple tapi menarik banget. Makin kesengsem lagi setelah saya baca bukunya. Halaman demi halaman bikin saya merasa bahwa Milea bisa jadi cewek SMA tahun 90-an yang paling beruntung di Bandung!

Cerita cinta anak-anak SMA ini ditulis dengan gaya yang sangat nggak biasa, yang baru saya temuin di buku ini aja. Gaya bahasanya nggak formal, bahkan justru menurut saya berantakan banget dengan penggunaan tanda kurung yang terlalu banyak. Tapi anehnya, saya nggak terlalu terganggu dengan itu, soalnya jadi makin kerasa bahwa buku ini ceritanya ditulis oleh Milea, pujaan sang pujangga yang masih duduk di kelas 2 SMA.

Dengan setting cerita di kota Bandung (dan SMA saya, hehehe), buku ini diperkaya dengan karakter-karakter sekundari yang memang udah biasa ngomong sambil diselipin bahasa Sunda sehari-harinya. Untuk saya yang orang Bandung, tentunya saya familiar dengan kata-kata Sunda itu, dan menarik juga diajak jalan-jalan mengelilingi kota saya sendiri di tahun 1990, setahun sebelum saya lahir. Tapi kayaknya untuk orang-orang yang belum pernah sekalipun ke Kota Kembang, agak susah untuk baca dialog-dialog yang ada di buku ini. Mungkin, sih.

Buku ini saya rekomendasikan buat anak-anak muda sekarang yang pengen tau 1) gaya pacaran tahun 90-an, dan 2) cara menggaet hati cewek. Yah setidaknya cewek-cewek seperti saya dan Milea, to whom Dilan's charm work wonders, hehehe. Juga untuk angkatan atas yang mau bernostalgia tentang jaman mereka pacaran.

Saya puas banget ngabisin Kamis saya baca buku ini. Saya kasih 4.5/5 deh! Saya harap buku keduanya cepet keluar.

RELATED POSTS

1 orang nyasar

Bagaimana menurutmu?