Senin, Desember 20, 2010

Justin BIBIR lah GAY lah ngaca ah!

Kemaren patah hati banget liat status temen baru di Facebook, yang kira-kira isinya, "Jangan tanya apa-apa soal Justin BIBIR ke gue karena gue ga dengerin lagu-lagu dia dan karena dia GAY. Bilang aja apa yang lo mau, tapi dia GAY buat gue."

Respek yang tadinya dne bangun sedikit demi sedikit, runtuh seketika sama satu status dia itu.

Tolong ya teman-teman, kalo kalian mau ngata-ngatain orang lain itu ngaca dulu. Apa sih yang udah kalian buat yang bikin kalian pantes untuk ngata-ngatain orang lain? Hm? Bikin lagu-lagu yang disukai banyak orang? Bikin berapa album yang laris manis di pasaran? Punya buku biografi sendiri?

Setidaknya itu yang Justin Bieber punya, dan dia nggak berhenti sampe sini meskipun ada orang-orang yang punya mulut yang sama kayak temen baru dne itu.

Dne bukannya fans berat Justin Bieber atau apa, tapi dne ga suka ada orang ngata-ngatain orang lain yang nggak bener. Bukannya dne sok suci atau apa, kadang-kadang juga dne keceplosan bilang yang jelek-jelek tentang orang yang nggak dne suka. Tapi setelah dne pikir lagi, apa sih yang bikin dne pantes untuk ngomong jelek tentang dia. Apa sih yang bikin dne lebih baik dari dia. Toh semuanya sama-sama manusia yang nggak berdaya kalo nggak dibantu Allah. Kan?

Lagian siapa yang suka sih dikata-katain.

Senin, Desember 06, 2010

Shiver

Dne beli satu novel secara random sebagai hadiah ulang taun untuk diri sendiri, dan dne jatuh cinta banget.

Shiver, buku pertama dari trilogi Wolves of Mercy Falls karangan Maggie Stiefvater.

Cerita ini sangat Twilight-ish dan teenage banget, something yang udah lama banget nggak dne embrace hahahah. Yang bikin beda adalah Sam Roth seorang werewolf, bukan vampire. Grace Brisbane juga introvert kayak Bella, tapi nggak lemah. Oh, dan di sini, para manusia serigala nggak bisa berubah seenak hati kayak di Twilight. Mereka bakal berubah jadi serigala kalo udaranya dingin, dan berubah balik jadi manusia kalo udaranya cukup hangat. Ada konsekuensi yang heart-breaking juga dalam menjadi manusia serigala, dan hal inilah yang bikin cerita ini menurut dne lebih real dibanding Twilight. Gaya menulis Maggie Stiefvater juga lebih bagus dari Stephenie Meyer, menurut dne. Mungkin karena Twilight itu karya pertama Meyer dan Stiefvater bukan penulis baru, ya.

Eits, dne banding-bandingin bukan karena dne nggak suka Twilight ya, justru karena dne suka dan tipe ceritanya serupa hehehe. Menurut dne impossible untuk baca buku ini dan nggak bandingin sama Twilight sesedikit apapun, hahah.

Sekarang dne lagi baca buku keduanya, Linger (dibeliin sebagai kado sama Nisha and Faiz, thanks), dan nunggu buku terakhirnya, Forever, yang bakal terbit taun depan. Bakal keluar movie-nya juga taun 2012, nggak sabar!